Entah kenapa aku
merasa dia sedikit berubah, dia jadi jarang untuk menghubungiku. Apa itu Cuma perasaanku
saja, sudah 2 minggu ini dia hanya menghubungiku 3 kali padahal biasanya sehari
sekali. Kami juga sudah tidak ketemu selama 1 bulan. Aku tahu mungkin dia sudah
lelah dengan hubungan jarak jauh kami. Tapi selama satu setengah tahun kami menjalani hubungan jarak
jauh ini dia bisa. Aku tahu dan aku sudah bosan dengan semua cerita hubungan
jarak jauah atau long distance relationship yang takkan bertahan lama. Tapi aku
bisa dan aku sudah satu setengah tahun menjalani hubungan ini. Haruskah aku
menyerah karena prubahan darinya? Apa aku selemah itu? Aku yakin aku yakin aku
yakin padanya. Kami masih satu kota walau tidak satu sekolah. Aku yakin untuk
terus bersamanya.
Hari ini adalah
anniversary kami yang ke-19 bulan, rencananya kami akan jalan dari pagi sampai
malam karena kebetulan ini Hari Minggu. Pertama kami akan lari bersama di car
free day, lalu lanjut pergi nonton dan dinner. Aku sudah sangat rindu padanya,
sebentar lagi aku akan di jemput olehnya. Kudengar bel rumahku berbunyi, dan
sudah aku pastikan itu Dion. Aku berlari untuk membukakan pintu, tapi aku
terkejut melihat dia tidak datang sendirian melainkan berlima dengan 4 temannya
Nino, Rai, Gilang dan Fredi. Aku memang kenal dengan mereka, tapi aku ingin
sekali berduaan dengannya. “Bianca kita gajadi lari pagi ya kita jalan ke
Bandung aja, nih mereka yang ngusulin oiya di mobil masih ada Luna sama Rina. Kamu
siap-siap gih kita mau nginep di villa Fredi.” “Oh gitu ya? Karna besok juga
libur gitu? Dadakan banget Diii?” “Kenapa kamu gamau ikut?” “Mau kok, masuk
dulu aja sekalian Luna dan Rina diajak masuk” lalu aku pergi ke kamar untuk
merapikan barang-barang. Kenapasih dia jadi kayak gini? Yaampun aku udah
gangerti lagi. Aku harus nyerah kah? Aku gatau lagi harus berbuat apa Tuhan
hatiku sungguh mempunyai feeling yang tidak enak. Apa karena ada perempuan
selain aku yang ikut? Entahlah mungkin aku terlalu berlebihan dan paranoid. Setelah
rapi aku bergegas ke ruang tamu untuk menghampiri mereka. “Gue udah siap nih”
kataku sambil menunjukkan tasku. “Duh Biii lagi enak nih belom sarapan tahu” protes
Rai yang memang bawel diantara yang lain.
Akhirnya kami
sampai di villa yang luas dan nyaman. Aku, Luna dan Rina satu kamar dan kelima
cowo itu juga sekamar. Kami memutuskan untuk istirahat lalu menjalankan rencana
yaitu jalan-jalan, renang atau bermain dan bersenang-senang. Kami sedang
merapikan barang-barang dan aku terkejut melihat salah satu barang milik Luna
yang mirip sekali dengan kepunyaanku yang di berikan Dion. Aku ingin sekali
menanyakannya tapi aku gamau dia curiga. Lalu aku hanya mengurungkan niat itu.
Luna kan sahabatku dari SMP masa iya dia tega menusukku dari belakang. Setelah semuanya
beres kami bertiga keluar. Rai, Nino, dan Gilang sedang asyik mengobrol
sedangkan Dion dan Fredi entah dimana. Lalu kami gabung dengan mereka. “No Dion
dimana?” Tanya Luna saat aku ingin bertanya, kenapa dia nyariin Dion? Aku diam
dan menyimaknya saja. “Kenpa Lun? Kangen lo sama dia baru pisah 10 menit juga?”
sialan percakapan macam apa itu? Disini ada aku pacarnya, apa benar dugaanku? Aahh
sudahlah jangan mikir yang macem-macem. “sialan
lo! Gak lah ada yang mau gue tanyain aja, lagi ada Bianca” “kenapa kalau ad
ague?” selaku. “Nggak kok Bi gapapa, yaudahlah gue ke kamar mandi dulu ya” lalu
Luna beranjak dan menuju belakang. Aku menyusulnya tetapi beralasan ingin ke
kamar “gue ke kamar ya hp gue low” dan mengikuti Luna. Luna tidak ke kamar
mandi melainkan ke halaman belakang. “Eh Bi mau kemana lo?” Tanya Fredi. “Lagi
jalan-jalan aja tapi abis dari kamar ngecas” lalu pergi mengikuti Luna lagi.
Tunggu siapa itu
yang lagi mesra-mesraan, kok kayaknya kenal ya. Aku mengintip pada jendela yang
kebetulan sangat dekat dengan mereka. Serius kah yang di perlihatkan mataku? Otakku
menerima pemandangan itu tapi hatiku sangat sakit, rasanya mau loncat aja dari
gedung apa kek gitu. Ya Tuhan kenapa ini terjadi padaku? Kenapa mereka sangat
tega padaku? Apa salahku pada mereka? Aku terkenang kejadian 6 bulan lalu saat
kami telah di terima di SMA kami. Saat itu aku dan Luna saling berjanji untuk
saling menjaga dan tetap bersahabat. Yang kebetulan pacarku 1 sekolah dengan
Luna dan Dion satu sekolah dengannya. “Lun janji ya jagain Dion jangan sampe
dia selingkuhin gue” “gue jadi Bii” lalu kami berpelukan. Memang sudah 2 bulan
yang lalu Luna putus dengan pacarnya. Tapi apa ini? Luna sedang menusukku. Sekarang
di depan mataku mereka bemesraan?aku menghampiri mereka, lalu menampar mereka
bergantian. “Aku gak percaya kalian ngelakuin ini! Terutama lo Lun, lo tuh
sahabat gue, kita sahabatan udah 3 setengah tahun. Tapi lo tega ya nusuk gue. Gue
kecewa Lun demi gue sakiit. Dion kita putus aja. Gue mau pulang y ague sakit
gue lelah ternyata feeling gue bener. Kalian udah berapa lama? Apa udah sejak
kita masuk SMA?” pipiku terasa panas dan airmataku sudah mengalir. “makasih
buat lo Di udah jadi pacar gue selama ini, sekarang tepat 19 bulan ya makasih
buat 19 bulannya. Dan lo Lun makasih bangeeet
buat selama ini.” Aku tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka. Aku abaikan
panggilan mereka berdua. Apa salahku apakah aku memang pantas untuk ini semua? Sedih
sekali perjalanan cintaku. Semoga kalian bahagia ya Dion Luna. Aku menuju kamar
dan membereskan semua barang-barangku. “Bianca please gagini caranya bukan
kabur carany Bii kita udah SMA” “apa lagi caranya? Lo nyakitin gue? Sumpah cukup,
gue buka bidadari yang hatinya lembut. Gue sakit banget udah ya makasih.” Lalu
bergegas keluar. Tapi di cegah oleh semuanya Nino, Fredi, Gilang, Rai, Rina,
Dion dan Luna. “Please gue mau pulang kalian jangan jadi pager gitu dong” “Bianca
kita semua udah saling kenal, kita tahu kita salah udah rahasiain ini sama lo” “kita
tahu kita gabuta tapi kita gamau lo sakit?” “tapi apa? Gue sekarang sakit Fred
No! gue mau pulang!” teriakku histeris. Mungkin berlebihan tapi aku di hianati
2 orang yang sangatku sayang. Pacar dan sahabatku. Rina yang juga sahabatku
memelukku lalu berkata “Bianca gue tahu lo sakit, tapi kita selesain ini
baik-baik ya. Jujur aja gue kaget tadi tiba-tiba Dion heboh suruh jagain pintu
sambil cerita kalau dia ketahuan selingkuh sama lo. Jujur gue sama sekali gatau
soal ini” “apa yang mau diselesain lagi? Semua udah selesai, Rin kalau lo emang
gatau lo temenin gue pulang ya. Please!” tapi Rina malah menyuruhku duduk dan
membahasnya secara baik-baik.
“Bianca gue tahu
gue salah, gue akuin ini pasti sakit banget tapi maafin gue ya Bi, kita kan
udah sahabatan lama maafin ya.” “maafin aku juga Bi” “Lun kalau lo tahu ini
sakit dan lo emang sahabat gue lo gabakal gini. Udahlah gue maafin kalian tapi
kalian buka sahabat dan pacar gue lagi ya.
Oke kalian semua puas kan? Ri ayo pulang” rengekku pada Rina. Aku sudah
tidak betah berada di sini. “jangan pulang Bianca, kan bisa senang-senang dulu.”
“makasih deh Rai, tapi gada yang mau gue di sini” “apaansih Bi gue mau kok!” “gue
juga” dan yang lain mengekori kata-kata Rai. Apa maksud Rai mau aku di sini? Tapi
karena semua tidak mengizinkanku pulang jadi tetap bertahan dan semoga ini
tetap jadi liburan bukannya siksaan. Lebih baik berteman dengan mantan pacar
dan semoga Luna menyesal. Tapi aku tidak akan percaya sepenuhnya pada mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar