Minggu, 02 Juni 2013

Hurt



                Entah kenapa aku merasa dia sedikit berubah, dia jadi jarang untuk menghubungiku. Apa itu Cuma perasaanku saja, sudah 2 minggu ini dia hanya menghubungiku 3 kali padahal biasanya sehari sekali. Kami juga sudah tidak ketemu selama 1 bulan. Aku tahu mungkin dia sudah lelah dengan hubungan jarak jauh kami. Tapi selama satu  setengah tahun kami menjalani hubungan jarak jauh ini dia bisa. Aku tahu dan aku sudah bosan dengan semua cerita hubungan jarak jauah atau long distance relationship yang takkan bertahan lama. Tapi aku bisa dan aku sudah satu setengah tahun menjalani hubungan ini. Haruskah aku menyerah karena prubahan darinya? Apa aku selemah itu? Aku yakin aku yakin aku yakin padanya. Kami masih satu kota walau tidak satu sekolah. Aku yakin untuk terus bersamanya.
                Hari ini adalah anniversary kami yang ke-19 bulan, rencananya kami akan jalan dari pagi sampai malam karena kebetulan ini Hari Minggu. Pertama kami akan lari bersama di car free day, lalu lanjut pergi nonton dan dinner. Aku sudah sangat rindu padanya, sebentar lagi aku akan di jemput olehnya. Kudengar bel rumahku berbunyi, dan sudah aku pastikan itu Dion. Aku berlari untuk membukakan pintu, tapi aku terkejut melihat dia tidak datang sendirian melainkan berlima dengan 4 temannya Nino, Rai, Gilang dan Fredi. Aku memang kenal dengan mereka, tapi aku ingin sekali berduaan dengannya. “Bianca kita gajadi lari pagi ya kita jalan ke Bandung aja, nih mereka yang ngusulin oiya di mobil masih ada Luna sama Rina. Kamu siap-siap gih kita mau nginep di villa Fredi.” “Oh gitu ya? Karna besok juga libur gitu? Dadakan banget Diii?” “Kenapa kamu gamau ikut?” “Mau kok, masuk dulu aja sekalian Luna dan Rina diajak masuk” lalu aku pergi ke kamar untuk merapikan barang-barang. Kenapasih dia jadi kayak gini? Yaampun aku udah gangerti lagi. Aku harus nyerah kah? Aku gatau lagi harus berbuat apa Tuhan hatiku sungguh mempunyai feeling yang tidak enak. Apa karena ada perempuan selain aku yang ikut? Entahlah mungkin aku terlalu berlebihan dan paranoid. Setelah rapi aku bergegas ke ruang tamu untuk menghampiri mereka. “Gue udah siap nih” kataku sambil menunjukkan tasku. “Duh Biii lagi enak nih belom sarapan tahu” protes Rai yang memang bawel diantara yang lain.
                Akhirnya kami sampai di villa yang luas dan nyaman. Aku, Luna dan Rina satu kamar dan kelima cowo itu juga sekamar. Kami memutuskan untuk istirahat lalu menjalankan rencana yaitu jalan-jalan, renang atau bermain dan bersenang-senang. Kami sedang merapikan barang-barang dan aku terkejut melihat salah satu barang milik Luna yang mirip sekali dengan kepunyaanku yang di berikan Dion. Aku ingin sekali menanyakannya tapi aku gamau dia curiga. Lalu aku hanya mengurungkan niat itu. Luna kan sahabatku dari SMP masa iya dia tega menusukku dari belakang. Setelah semuanya beres kami bertiga keluar. Rai, Nino, dan Gilang sedang asyik mengobrol sedangkan Dion dan Fredi entah dimana. Lalu kami gabung dengan mereka. “No Dion dimana?” Tanya Luna saat aku ingin bertanya, kenapa dia nyariin Dion? Aku diam dan menyimaknya saja. “Kenpa Lun? Kangen lo sama dia baru pisah 10 menit juga?” sialan percakapan macam apa itu? Disini ada aku pacarnya, apa benar dugaanku? Aahh sudahlah jangan mikir yang  macem-macem. “sialan lo! Gak lah ada yang mau gue tanyain aja, lagi ada Bianca” “kenapa kalau ad ague?” selaku. “Nggak kok Bi gapapa, yaudahlah gue ke kamar mandi dulu ya” lalu Luna beranjak dan menuju belakang. Aku menyusulnya tetapi beralasan ingin ke kamar “gue ke kamar ya hp gue low” dan mengikuti Luna. Luna tidak ke kamar mandi melainkan ke halaman belakang. “Eh Bi mau kemana lo?” Tanya Fredi. “Lagi jalan-jalan aja tapi abis dari kamar ngecas” lalu pergi mengikuti Luna lagi.
                Tunggu siapa itu yang lagi mesra-mesraan, kok kayaknya kenal ya. Aku mengintip pada jendela yang kebetulan sangat dekat dengan mereka. Serius kah yang di perlihatkan mataku? Otakku menerima pemandangan itu tapi hatiku sangat sakit, rasanya mau loncat aja dari gedung apa kek gitu. Ya Tuhan kenapa ini terjadi padaku? Kenapa mereka sangat tega padaku? Apa salahku pada mereka? Aku terkenang kejadian 6 bulan lalu saat kami telah di terima di SMA kami. Saat itu aku dan Luna saling berjanji untuk saling menjaga dan tetap bersahabat. Yang kebetulan pacarku 1 sekolah dengan Luna dan Dion satu sekolah dengannya. “Lun janji ya jagain Dion jangan sampe dia selingkuhin gue” “gue jadi Bii” lalu kami berpelukan. Memang sudah 2 bulan yang lalu Luna putus dengan pacarnya. Tapi apa ini? Luna sedang menusukku. Sekarang di depan mataku mereka bemesraan?aku menghampiri mereka, lalu menampar mereka bergantian. “Aku gak percaya kalian ngelakuin ini! Terutama lo Lun, lo tuh sahabat gue, kita sahabatan udah 3 setengah tahun. Tapi lo tega ya nusuk gue. Gue kecewa Lun demi gue sakiit. Dion kita putus aja. Gue mau pulang y ague sakit gue lelah ternyata feeling gue bener. Kalian udah berapa lama? Apa udah sejak kita masuk SMA?” pipiku terasa panas dan airmataku sudah mengalir. “makasih buat lo Di udah jadi pacar gue selama ini, sekarang tepat 19 bulan ya makasih buat 19 bulannya. Dan lo Lun makasih bangeeet  buat selama ini.” Aku tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka. Aku abaikan panggilan mereka berdua. Apa salahku apakah aku memang pantas untuk ini semua? Sedih sekali perjalanan cintaku. Semoga kalian bahagia ya Dion Luna. Aku menuju kamar dan membereskan semua barang-barangku. “Bianca please gagini caranya bukan kabur carany Bii kita udah SMA” “apa lagi caranya? Lo nyakitin gue? Sumpah cukup, gue buka bidadari yang hatinya lembut. Gue sakit banget udah ya makasih.” Lalu bergegas keluar. Tapi di cegah oleh semuanya Nino, Fredi, Gilang, Rai, Rina, Dion dan Luna. “Please gue mau pulang kalian jangan jadi pager gitu dong” “Bianca kita semua udah saling kenal, kita tahu kita salah udah rahasiain ini sama lo” “kita tahu kita gabuta tapi kita gamau lo sakit?” “tapi apa? Gue sekarang sakit Fred No! gue mau pulang!” teriakku histeris. Mungkin berlebihan tapi aku di hianati 2 orang yang sangatku sayang. Pacar dan sahabatku. Rina yang juga sahabatku memelukku lalu berkata “Bianca gue tahu lo sakit, tapi kita selesain ini baik-baik ya. Jujur aja gue kaget tadi tiba-tiba Dion heboh suruh jagain pintu sambil cerita kalau dia ketahuan selingkuh sama lo. Jujur gue sama sekali gatau soal ini” “apa yang mau diselesain lagi? Semua udah selesai, Rin kalau lo emang gatau lo temenin gue pulang ya. Please!” tapi Rina malah menyuruhku duduk dan membahasnya secara baik-baik.
                “Bianca gue tahu gue salah, gue akuin ini pasti sakit banget tapi maafin gue ya Bi, kita kan udah sahabatan lama maafin ya.” “maafin aku juga Bi” “Lun kalau lo tahu ini sakit dan lo emang sahabat gue lo gabakal gini. Udahlah gue maafin kalian tapi kalian buka sahabat dan pacar gue lagi ya.  Oke kalian semua puas kan? Ri ayo pulang” rengekku pada Rina. Aku sudah tidak betah berada di sini. “jangan pulang Bianca, kan bisa senang-senang dulu.” “makasih deh Rai, tapi gada yang mau gue di sini” “apaansih Bi gue mau kok!” “gue juga” dan yang lain mengekori kata-kata Rai. Apa maksud Rai mau aku di sini? Tapi karena semua tidak mengizinkanku pulang jadi tetap bertahan dan semoga ini tetap jadi liburan bukannya siksaan. Lebih baik berteman dengan mantan pacar dan semoga Luna menyesal. Tapi aku tidak akan percaya sepenuhnya pada mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar