Senin, 29 April 2013

Mengapa Cinta itu Dadakan?



Bendera kuning tergantung di depan rumahku, aku baru saja kehilangan ibuku. Hatiku begitu hancur dan sangat kehilangan. Bagiku ibu adalah segalanya, dia yang telah  merawatku dari kecil hingga tumbuh remaja. Rumahku sangat penuh sesak oleh keluarga dan tetangga. Ayahku juga hadir. Ibu dan ayah sudah berpisah sejak aku berumur 3 tahun. Ibu menikah dengan ayah yang diketahui ibu ayah masih bujangan sesuai pengakuannya. Tetapi setelah 3 tahun menikah ibu baru tahu kalau ayah telah mempunyai istri lain sebelum menikah dengan ibu. Dan akhirnya terjadi perpisahan mereka, karena ibu tidak ingin dicap sebagai perebut suami orang. Aku tidak merasa kehilangan ayah saat itu karna aku masih kecil dan belum mengerti apapun. Karena ibu telah meninggal dunia, ayah bilang aku akan tinggal bersama keluarganya. Aku memang sudah kenal istri ayah tetapi dengan anaknya aku tidak kenal karena belum pernah bertemu.
                                                                                ***
Hari ini adalah hari kepindahanku ke rumah ayah, aku takut tidak diterima di sana apalagi sama anak ayah. Tetapi ayah meyakinkanku kalau aku akan diterima dengan baik di sana. Aku hanya membawa barang-barang yang kuanggap penting karena ayah juga bilang kalau semua barang untukku telah disiapkan. Sesampai di rumah ayah yang akan menjadi rumahku juga, aku di sambut oleh Tante Nola dan anak ayak tak terlihat di sana. “Hallo Pida” sapanya, “Hai tante” balasku. “Panggil mama aja sayang tapi kalau kamu mau” tawar Tante Nola, aku sedikit ragu tapi kalau dipikirkan dia kan ibu tiriku jadi ya boleh sajalah. “iya tante eh ma” balasku sambil tersenyum malu lalu mencium tangannya. Ayahku hanya tersenyum terharu melihatku sangat sopan dan menghargai istrinya. Saat memasuki rumah, aku melihat sesosok cowo yang sudah tidak asing di mataku. Cowo itu menoleh dan benar saja dia adalah kakak kelas di sekolahku, jadi kakak tiriku adalah kakak kelasku yang merupakan sahabat kakak kelas yang kutaksir. Jantungku rasanya mau copot baru saja tadi di sekolah dia menertawakanku, aku memang tidak tahu pasti dia mengetawakanku atau tidak tapi saat gerombolannya melewatiku dan sahabat-sahabatku dia tertawa. Cowo itu sekarang sama halnya denganku, memasang wajah kaget. Lalu ayah, mama Nola menarik tanganku untuk duduk bersamanya di ruang tengah. Aku sangat merasang canggung berada di sana. Mama Nola permisi ke dapur untuk mengambilkan minum dan makanan ringan untuk menemani kami. “Pida, Haidir kalian satu sekolah kan? Apa kalian sudah saling kenal?” Tanya ayah yang menghilangkan kesunyian. “Iya yah, tapi aku gakenal sama dia” jawabku sedikit tidak sopan dan campur kesal karena mengingat kejadian di sekolah. “Iya pa kita gak kenal sama sekali.” Jawab Haidir sangat ketus. Aku yang mendengar jawabannya menjadi tambah kesal. “yaudah sekarang kalian kenalan yah, ayah ke belakang dulu” tawar ayah. “ih ayah gaenak panggilnya papa ajalah kayak biasanya, eh lo jangan panggil ayah papa aja” perintah Haidir sok kuasa. “Apaansih suka-suka gue” “iya Dir biarin Pida manggil papa apa” “lagian tadi papa bilangnya ayah, papa kan gacocok dipanggil aya. Udah gini aja tentuin aja ya panggilnya papa titik.” “terserah deh” ayah yang melihat perdebatan hanya bisa geleng-geleng kepala lalu pergi meninggalkan kami. Aku sebenernya juga mau pergi tetapi aku tidak tahu di mana calon kamarku. “Eh lo yang naksir Rino kan?” todong Haidir tiba-tiba, aku yang ditodong hanya bisa memasang wajah cengo saja. “Punya kuping kan? Jawab kali” tanyanya lagi dengan nada mengejek. “kok lo sok tahu banget sih, siapa juga yang suka sama Kak Rino” kataku berbohong, aku yakin mukaku terlihat sekali sedang berbohong karena aku tidak bisa yang namanya bohong. “gausah boong deh gue sering kok sama temen-temen gue ngeliatin kalian lagi ngeliatin gue dan temen-temen. “ “ih kok pd amat sih kalian” “ckckc dasar ya cewe. Yaudahlah kalau gamau jujur.” Aku bunging maksud katanya yang ini sehingga aku hanya diam dan mencerna makna di balik kalimat itu. “lo gamau ke kamar lo?” “hmm gue gatau kamar gue di mana, kalau tau juga udah ke kamar deh” “oh gitu, yaudah ayok ikut gue” lalu Haidir bangki yang disusul olehku di belakangnya menuju kamarku.
                                                                                ***
“kalian berangkat bareng ya, papa gabisa anter Pida soalnya papa ada meeting” “iya pa” aku yang mendengar percakapan singkat itu hanya bisa deg-degan campur aduk. Aku takut kalau nanti jadi bahan perbincangan orang-orang di sekolah. Aku duduk di  jok belakang motor Kak Haidir. Entah apa yang terjadi nanti di sekolah. “Da lo beneran ga suka sama temen gue?” “kenapa sih lo penasaran banget Kak” “gapapa gue penasaran aja, lagi waktu itu pernahkan temen-temen lo heboh panggilan nama lo pas gue ama temen-temen gue lewat terus elo salting gitu” jelasnya sangat panjang, aku bingung harus menjawab apa. “gapapa kan wajar kali cewe heboh” dan itulah jawaban yang terlontar di mulutku. Setelah itu selama perjalanan hanya diam, lalu aku memasang earphone untuk mendengarkan alunan lagu pada handphoneku. Tanpaku sadari ternyata kami sudah memasuki parkiran sekolah, saat aku ingin turun dari motor ku lihat motor sebelah adalah motor Kak Rino dan orangnya yang baru saja turun yang sangat kebetulan lagu pada handphoneku sedang terputar lagu Dia – Afgan. Sungguh kebetulan yang sangat membuatku tercengang, lalu buru-buru saja aku kabur dari sana menuju kelasku. Aku sudah melihat Angel yang sedang berdiri melamun seperti biasa di depan kelas. Kelasku terletak pada lantai satu jadi aku buru-buru menaiki tangga dan sedikit berlari menghampiri Angel. “Hai Pid, di kejar setan ya?” Sapanya setelah melihatku dating dengan yang sedikit ngos-ngosan. “Sialan lo Ngel, ih gila gue ketemu Kak Rino diparkiran njiir” ceritaku padanya. “Iya? Gimana-gimana? Terus yang ternyata kakak tiri lo itu si Haidir juga gimana?” “ntar aja ceritanya sekalian sama Dira dan Agnest aja” “kebiasaan lo ya bikin kepo” lalu aku pergi ke dalam kelas untuk menaruh tas dan balik lagi ke Angel. Tak lama kemudian Dira dan Agnest dating. Kebetulan jam pertama dan kedua kosong karena gurunya ada urusan dan tidsak meninggalkan tugas. Aku, Angel, Dira dan Agnest duduk di belakang kelas sambil aku bercerita kejadian kemarin dan tadi pagi. Mereka tertawa dan mencie-cie kanku, aku tidak mengerti sama sikap mereka yang selalu jahil tapi care. Entah mengapa aku punya perasaan tidak enak, karena Kak Haidir selalu mendesakku untuk jujur.
Dek nanti pulangnya bareng disuruh papa, nanti lo ke kelas gue aja ya. Gue mau belajar dulu soalnya.
Isi sms dari Kak Haidir sangat membuatku kaget dan kesal, karena kan bisa aja aku menunggu di kelas atau pas dia di parkiran aku tinggal menyusulnya. Saat kutunjukkan SMS itu ke sahabat-sahabatku mereka langsung heboh seketika dan anak-anak sekelas langsung mengalihkan perhatian mereka ke kami. Aku meminta mereka untuk nanti menemani ku kekelas Kak Haidir, untung saja mereka mau karena mereka ada urusan. Apalagi Agnest yang juga naksir sama salah satu teman Kak Haidir yaitu Kak Keni. Angel dan Dira ingin member uang ke kakak kelas yang kelasnya bersebelahan dengan kelas Kak Haidir. Bel ganti pelajaran ketiga berbunyi lalu guru dating dan kamipun belajar. Pada waktu istirahat [ertama dan kedua kami berempat, pasti sibuk untuk menjalankan modus kami yaitu melihat gerombolan kakak kece, ya apalagi kalo bukan Kak Rino cs.
                                                                                ***
Waktunya pulang sekolah, kami tidak langsung menuju ke kelas Kak Haidir kami berdiri dulu selama 15 menit baru turun ke bawah. Angel, Dira dan Agnest ke kelas kakak eksul mereka yang berada tepat di sebelah Kak Haidir sedangkan aku ke kelasnya. Ternyata Haidir berbohong dia tidak sedang balajar, lalu saat gerombolan melihatku saat memanggila Kakakku, yang menghampiriku bukannya Haidir tapi Rino kurasakan Jantungku berdetak lebih cepat mungkin ingin copot. Aku hanya bisa diam mematung rasanya ingin kabur tapi kakiku tak mau bekerjasama. Ku lirik ketiga sahabatku di kelas sebelah, mereka sedang asik mengobrol dengan kakak kelasnya. “Hai Pida kan? Adiknya Haidir?” “Iya kenapa ya? Kak Haidir ayo pulang gue banyak tugas nih!” seru ku pada Haidir, lalu ku lihat ketiga temanku sekarang sedang sibuk cekikikan yang melihatku sedang salting karena dihampiri oleh orang yang sedangku taksir. “Gapapa, lo kenapa buru-buru banget sih sini aja ngobrol dulu aja” ajak Kak Rino. “enggak deh kak gue banyak tugas. Kak Haidir cepetan dong udah ijin duluan sama temen-temen lo elah” omelku. “Yaudah gue duluan ya, bawel banget dia sabar ya Rin besok aja lo ke rumah gue” lalu Rino hanya menganggu dan kami pulang, saat melewati ketiga sahabatku mereka masih asyik tertawa.
                                                                                ***
Mentari menyusup ke kamarku, suara ketukan pintu denger dari pintu kamarku. Di susul suara Mama Nola yang memanggil, manggil namaku untuk sarapan. Aku ke kamar mandi untuk mencuci mukaku karena ini hari sabtu aku tidak sekolah jadi aku tidak mandi pagi. Aku turun tangga menuju ruang makan, semua sudah duduk di ruang makan. Bel rumah bel berbunyi bertepatan saat aku selesai makan, lalu Mama meminta tolong agar aku membukakan pintunya. Aku sangat takut kalau tamu itu adalah Kak Rino, entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat lagi. Dan benar saja tebakanku kalau yang dating adalah Kak Rino. “Kaaaaaaak ada temennya yang dating nih” teriakku meberitahu Kak Haidir lalu mempersilahkan Kak Rino duduk. Karena sudah terbiasa diajarkan ibuku untuk sopan pada tamu aku menanyakan dia mau minum apa tetapi dia malah minta ditemani mengobrol. Aku tak tahu mengapa Kak Haidir dating sangat lama padahal jarak dari ruang makan ke ruang tamu tidak jauh. “eh Rin udah lama? Tadi gue ngambilin minum dulu nih” kata Haidir saat datang.  “Lama banget sih, Kak Rino gue ke kamar dullu yak an Kak Haidir udah dating.” Pamitku, lalu melanhgkah ke kamar tetapi tanganku di tahan olehnya. Kak Haidir hanya nyengir melihat adegan barusan. “tunggu, lo siap-siap y ague mau ngajak lo jalan.” “hah? Males ah gue ngantuk” “udah pergi aja sono” “lo ikut kak?” “enggaklah lo berdua aja” “lah mau ngapain?” “jalan aja Pid, mau ya? Baru gue lepasin tangan lo” “ih maksa banget sih kak, iya deh iyah” lalu Kak Rino melepaskan tanganku. Aku bergegas ke kamar dan bersiap untuk pergi bersama Kak Rino. Sebenernya tadi aku hanya jual mahal aja, biasalah cewe kan gengsinya gede.
                                                                                ***
Kami sampai di suatu taman yang masih indah dan sangat terawat. Selama ini aku tidak pernah pergi kesini, ternyata tempat ini sangat indah. Kak Rino menyuruhku untuk turun duluan dan mencari taman yang berisi bunga mawar. Aku menunggu kira-kira sudah 30 menit dan dia juga belum dating. Karna bosan ku putuskan untuk memperhatikan mawar-mawar indah disini.  Seketika penglihatanku gelap, ada tangan yang menutupinya. “ayo tebak siapa?” “paling Kak Rino, udah ka jangan becanda mulu bosen gue.” “jangan panggil Kak kita kan sepantaran Cuma beda beberapa bulan aja” “yaudah lepasin tangan lo dong Rin” lalu dia melepaskan tangannya, aku berbalik dan kaget melihat Rino memegang sebuah mawar putih dan satu set cokelat faforitku. “PIDA INDAH PUTRI MAU GAK JADI PACAR GUE?” “APA?” “MAU GAK LO JADI PACAR GUE?” “SERIUS?” “ENGGAK BOONGAN” “OH KIRAIN BENERAN” lalu aku pergi meninggalkannya karena merasa di permainkan padahal hatiku sudah berbunga-bunga. “PIDAAAAAA KOK LARI SIIH!” teriak Rino, lalu mengejarku dan menghentikan langkahku. “kok lo lari sih?” sambil memutar tubuhku agar melihatnya “kok nangis?” “lagian lo jahat banget” kataku sambil terisak. “Pida tadi gue Cuma bercanda bilang boongannya, gue serius kok gue beneran sayang sama lo soalnya lo lucu banget kalo ke gep lagi meratiin gue” jelasnya panjang lebar. “kok pd banget sih lo, gue gameratiin lo” “gausah boong Pida, yaudah gini kalau lo mau jadi pacar gue lo ambil mawar dan coklat favorit lo tapi kalo gamau ambil coklatnya aja” “kok lo tau coklat faforit gue Rin?” “karena gue juga meratiin lo, ayp cepet pilih” lalu aku mengambil coklat faforitku. Ku lihat raut mukanya sangat kecewa. “Pida lo nolak gue?” “iyalah gue nolak lo untuk Cuma ngambil coklat aja jadi gue ambil juga mawarnya”. Lalu dia memelukku dan berterimakasih karna sudah menerima cinta dadakannya itu.
                                                                                ***
“Piddddd lo beneran jadian?” Tanya Agnest tak percaya. “iya ciyuss deh cungguh” candaku sambil meniru gaya-gaya sok imut ala anak alay. “cieee PJ PJ” kata Dira dan Angel  berbarengan. “tenang ajaaa, Nest kapan lo mau pdkt sama Keni? Gue bantuin deh” “ah gamau ah, lagian gamungkin gue jadian sama dia” “kata siapa gamungkin” kata Keni tiba-tiba nimbrung pembicaraan kami di kantin, untung kantin sedang rame jadi kemungkinan orang-orang memperhatikan kami sangat sedikit. Kami berempat langsung menoleh ke sumber suara. Kulihat gerombolan Rino ternyata duduk di belakang meja kami. “Agnest sebenernya gue suka lo tuh bareng pas Rino suka Pida, mau gak lo jadi pacar gue?” “mauu” “cieeee” lalu gerombolannya dan kami berempat bergabung di satu meja. Memang cinta selalu dating tanpa permisi dan secara tiba-tiba. Kita sebagai manusiapun pasti sulit untuk menolak kehadiran cinta.
-Princess

Minggu, 28 April 2013

Apapun Bisa Terjadi

Benda yang bernama handphone itu selalu berada di tanganku. Benda itu tak pernah lepas dari tanganku, aku selalu melihatnya, memencet-mencetnya untuk melihat hal yang kuinginkan. Seperti sekarang ini aku sedang asyik melihat-lihat laman dari salah satu sosial media yaitu profile orang yang telah mencuri perhatianku sejak 1 bulan terkhir ini. Ya dia kakak kelasku, seorang cowo yang sangat menarik di mataku, dia tinggi dan mempunya badan yang lumayan atletis, kulitnya juga putih dan dia sangat tampan. Dia termasuk kalangan yang banyak di sukai adek kelas bahkan kakak kelas. Dia pokoknya cowo yang pasti digilai cewe-cewe 1 sekolah. Aku sendiri hanya seorang cewe biasa-biasa aja yang kemungkinan untuk dilirik kakak itu sangaaat kecil. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh dan di sosial media. Di sosial mediapun aku hanya melihat dan tidak berani untuk berteman di facebook atau memfollownya di twitter.
"Prita ngapain sih lo, ngestalk mulu? Samperin giih tuh orangnya baru aja lewat mau ke lab kayaknya" kata Feni salah satu sahabatku membuatku mengalihkan perhatian dari handphoneku. "Lo gila sih Fe, gue sih masih waras." jawabku frustasi, Feni memang selalu menyarankanku untuk menghampiri cowo yang telah membuat ku jadi stalker.

                                                                         ***
"huaaaaaaa" teriakku saat menabrak seseorang di tikungan lorong sekolah dan aku terjatuh. Orang itu menjulurkan tangannya untuk membantuku bangun. Kuraih tangannya dan saat melihat siapa orang itu jantungku langsung berdegup 2x lipat lebih cepat dari sebelumnya. Ya orang itu Kak Remon, kakak kelas yang telah mencuri hatiku. "Maaf ya gue gasengaja." suara Kak Remon membuatku gugup. "Iya kak ma-ma-maaf juga ya" jawabku gugup. duh kenapa pake gugup segala sih, omelku dalama hati. Kak Remon hanya senyum lalu melanjutkan langkahnya entah kemana. Saat ku lihat Feni dan Fara sedang tertawa melihatku, aku yakin mereka melihat kejadian tadi. "cieeee yang abis tabrakan sama pangerannya" "cieeee banget deh cieee" ledek Feni dan Fera bersamaan. "Duuh apasih kalian" "tuhkan mukanya merah" dan seterusnya ledekan mereka berlanjut.

                                                                         ***
Sejak kejadian kemarin hidupku berubah 180 derajat, Kak Remon tiba-tiba ngeadd dan ngefollow facebook dan twitterku. aku sendiri kaget campur senang. Kalau katanya kedua sahabatku itu kode tapi menurutku sih bukan. Hari ini pun lumayan aneh, ada 2 kakak kelas yang menghampiriku saat jam istirahat yang merupakan sahabat Kak Remon yaitu Kak Ken dan Kak Heri. Mereka memberikan sebuah bungkusan yang di bungkus dengan kertas berwarna ungu yang merupakan faforitku. Sekarang bungkusan itu ada di tanganku, aku sedikit ragu untuk membukanya entah mengapa. Tapi karna penasaran kusobek bungkusan itu dan ku temukan sebuah kalung dengan bantuk berinisial "RP" dan terdapat sebuah surat yang ditulis dengan tulisan khas cowo.
                   "Buat cewe yang gugup kemarin -R"

                                              ***
Mentari masih malu-malu untuk keluar, tetapi aku sudah sampai di sekolah. Aku sedang berdiri di depan kelasku, tiba-tiba kak Remon menghampiriku lalu bertanya "Hai udah terima kalungnya?" tanya Kak Remon. "Udah kak makasih ini aku pake kalungnya. Tapi kenapa kakak kasih kalung ini buat aku?" tanyaku. "Karna gue mau ngasih kado ke elo kan kemaren lo ultah, oh iya happy birthday ya" jawab ka Remon. Aku gatau kalau kak Remon tahu kemaren itu hari ultahku. Untuk beberapa saat kami hanya terdiam begitupun lingkungan sekitar kami yang masih sunyi hanya ada beberapa orang disana. "Gue ke kelas dulu ya Ta, oh iya ngomongnya gue elo aja jangan aku kamu nanti dikira udah jadian" pinta kak Remon sambil berlalu meninggalkanku yang diam mematung. Sebenernya tadi aku sangat deg degan bukan main saat Kak Remon berdiri di sebelahku. "Ta ta taaaaaa" panggil suara yang sangat cempreng. "Duh Feeeeeeeeeeeee berisik" omelku. "Lagian lo bengong aja, kenapa sih meratapi nasib gabisa ngobrol sama kak Remon lo itu?" ledek Feni. "Yah lo ketinggalan jaman bangeet baru aja tadi gue ngobrol sama dia" kataku bangga disertai senyuman khasku. "hah serius lo?" tanyanya tak percaya. Aku hanya senyum-senyum aja, biar aja si Feni penasaran. Apakah nanti saat istirahat atau pulang Kak Remon akan datang menghampiriku lagi?

tettttt....tteeeettttt.....teeeeettttt... bunyi bel berbunyi 3x yang menandakan waktu untuk pulang sekolah. Aku langsung merapikan buku-buku dan perlatan tulisku ke dalam tas. Lalu menghampiri kedua sahabatku untu pulang bersama. "Ta lo masih utang janji ke kita berdua soal bungkusan kemaren ama kejadian tadi pagi." todong si Fara, aku yang ditidong hanya bisa senyum karena mengingat 2 kejadian tersebut. "hmmm nanti aja deeh, ntar kalian sirik sama gue" jawabku sok misterius. Kami sudah berada di parkiran untuk pulang dengan mobil Fara seperti biasa. Ku lihat sosok yang sangat kece itu ingin masuk ke mobilnya tetapi tidak jadi dan malah berjalan ke arah mobil Fara. "Hi" sapanya "Hallo kak" jawab kami bertiga berbarengan "eh Far, Fen gue pinjem temen lo ya. Ta bareng gue ya" pintanya pada kami. "Yaudah kak ambil aja gausah di pulangin" kata Feni, "iya kak jangan dipulangin" susul Fara. Aku hanya diam saja tidak tahu harus berbicara apa. "yaudah yuk" ajak kak Remon lalu berjalan ke mobilnya yang disusul olehku.

Sekarang aku ada di mobil kak Remon, dan gatau harus ngomong apa. Kami juga hanya sama-sama terdiam, sampai akhirnya kak Remon membuka percakapan. "Ta gue mau jujur boleh gak?" "hah?" "mau jujur nih gue" "jujur aja kak, emang kenapa deh?" "gue suka sama lo sejak pertama ngeliat lo dan udah sebulan ini gue merhatiin lo dan gue juga tahu lo meratiin gue dan suka stalk gue kan?" "hah serius kak? kakak tahu darimana gue suka stalk?" "lo kan pernah gasengaja ngeretweet tweet gue padahal ga lo follow." "oh gitu" "dih kok cuma gitu doang, PRITA LESTARI lo mau gak jadi pacar gue? gue tahu ini cepet dan terlalu mendadak tapi gue gamau kehilangan lo atau keduluan yang lain" " hah?" "hah, hah mulu deh jawab aja please" "iya ka REMON RAMADHAN aku mau tapiiii aku masih kaget jadi hah hah mulu". Sejak saat itu kami resmi pacaran, apapun bisa saja terjadi tanpa alasan dan dengan cara yang aneh.

-Princess

Cathing Feelings - Justin Bieber

The sun comes up on another morning
My mind never wakes up without your warning
And it's crazy to me, I even see you in my dreams
Is this meant to be? could this be happening to me

We were best of friends since we were this high
So why do I get nervous every time you walk by
We would be on the phone all day
Now I can't find the words to say to you
Now what i'm supposed to do

Could there be a possibility
I'm trying to see what's up
Cause i'm made for you, and you for me
Baby now is time for us
Tryna I keep it all together
But enough is enough
They say we're too young for love
But i'm catching feelings, catching feelings

In my head we're already together
I'm cool alone, but with you i'm better
I just wanna see you smile
You say the word and i'll be right there
I ain't never going nowhere

I'm just trying to see where this can take us
Cause everything about you girl is so contagious
I think I finally got it down
Now whats left to do now, it's get at the mirror
And say it to her

Could there be a possibility
I'm trying to say what's up
Cause i'm made for you, and you for me
Baby now is time for us
Shall I keep it all together
But enough is enough
They say we're too young for love
But i'm catching feelings, catching feelings

Should I tell her, how I really feel
Or should I move in closer just be still
How would I know?
Cause if I take a chance, and I touch her hand
Will everything change?
How do I know, if she feels the same?

Could there be a possibility
I'm trying to say what's up
Cause i'm made for you, and you for me
Baby now is time for us
Shall I keep it all together
But enough is enough
They say we're too young for love
But i'm catching feelings, catching feelings

Catching feelings, catching feelings....

 -Princess

Justin Bieber








HAIIII!
Gue emang fansnya eh bukan gue ini Beliebers. Gue jadi Beliebers udah dari 2009 dan gue jatuh cinta sama si bang ntin sejak pertama gue denger lagu-lagunya. Awalnya gue cuma jadi fansnya tapi lama kelamaan gue jadi tergila-gila dan menobatkan diri gue sendiri sebagai Beliebers hehe. Dan ada 2 foto di atas yang menunjukkan kedekatan Justin dengan Beliebersnya. Sekarang gue lagi sedih dan ya campur ada deh, gue rasa ada beberapa beliebers juga yang ngerasain. JUSTIN BIEBER BALIKAN SAMA SELENA GOMEZ!!! yaampuuun kenapa mereka balikan siih gue sedih gue galau gue hancur:( okey ini lebay tapi emang gitu. gue sebel sele itu dulu kan pernah ketawa dan bangga buat justin nangis, dan justin ngupload foto dia sama selena pas lagi topless omaygattt gue nyesek liat itu foto. yah tapi gimana lagi? sebagai beliebers gue cuma bisa ikut seneng aja kalo Justin seneng. okeyy curhatan gue segini dulu tentang bang ntin.

-Princess

Sabtu, 27 April 2013

This Is a Dream?

Hallo perkenalkan gue Lea, gadis berumur 16 tahun yang mempunyai banyak mimpi. Mimpi yang paling ingin gue wujudin yaitu bisa bermain film layar lebar yang ceritanya gak basi dan bakalan meledak di pasar perfilman. Jadi aku sering ikut casting-casting film tapi belum pernah berhasil. tapi sesuai kata idola gue yaitu "never say never" jadi gue terus berusaha dan percaya suatu saat bisa mewujudkan mimpi gue itu. selain mimpi itu gue masih banyaaaak mimpi-mimpi lain, tapi untuk kali ini gue berniat mencapai mimpi gue yang tadi gue jelasin. gue juga punya banyak teman dan beberapa sahabat, semua sahabat gue juga ngedukung dan nggak bosen-bosennya dengerin curhatan gue.
sebagai anak SMA gue juga punya cowo yang gue taksir, gue kebetulan naksir sama kakak kelas gue namanya Kak Reno. Kak Reno beda 1 tahun di atas gue, dia udah punya cewe tapi kan gapapa kalo gue naksir dia toh gue cuma jadi pecinta rahasia aja. oh iya akhir-akhir ini gue sering ngedapetin di kolong meja gue ada surat gitu kadang-kadang juga ada cokelatnya. kalo kata sahabat gue itu ada penggemar rahasia gitu, tapi gue gamau terlalu mikirin. gue sih sekolah di sekolah yang nyebelin, gimana gak nyebelin kerjaannya tuh ngasih PR mulu terus tugas numpuk banyak banget betein kan? gue mau punya sekolah yang nyantai gitu tapi dapetnya kayak gini yaudah syukurin ajalah. cerita gue kepanjangannya ya? hmm gapapalah toh gue ini yang cerita bukan kalian kan?

                                                               ***

angin bertiup begitu kencang serta di ikuti suara-suara petir yang bergemuruh. cuaca saat ini sedang buruk padahal Lea sudah harus berada di tempat casting sebuah film yang diadaptasi dari sebuat novel best seller. perasaan Lea sangat gundah karena takut kesempatan besar ini akan hilang jika ia sia-siakan begitu saja. dengan nekat Lea meneboros hujan yang sedang deras, ia berlari dengan jas hujannya mencari sebuah taksi untuk pergi ke tempat tersebut. beruntung ada taksi yang kebetulan lewat dan kosong, Lea menaiki taksi tersebut menuju tempat berlangsung casting untuk film yang menurutnya tak basi dan akan sangat laku di pasaran. Lea beruntung karena ia tidak telat. Lea mendaftar lalu menunggu gilirannya di panggil.
   
                                                           ***

"yaampuuun Leee congrats yaaa congrats" sahabat-sahabat Lea memberi ucapan selamat atas kerja keras yang akhirnya berhasil ia raih, akhirnya dari sekian banyak casting yang telah ia lakukan Lea berhasil lolos casting. walau dia hanya mendapatkan pemeran pembantu bukannya pemeran itu dia tetap bangga karena dia berpikir ini akan menjadi batu loncatan untuknya. dia sangat berharap proses syutingnya menyenangkan dan filmnya laku keras.

                                                           ***

Lea akting kamu semakin bagus saja, pertahankan!" puji sang sutrada saat Lea selesai take. mendengar pujian itu Lea semakin bersemangat untuk terus memperbaiki aktingnya. lawan mainnya kali ini juga pendatang baru sepertinya. lawannya ada Teo, cowo tampan yang pastinya akan cepet mendapatkan perhatian remaja-remaja saat ini. Teo lebih tua 2 tahun dibandingkan Lea. Teo merupakan mahasiswa semester 1, dia sangat ramah kepada semua orang. sejak pertemuan pertama Teo dan Lea, Lea menaruh hati pada Teo tetapi Lea ragu apakah cintanya kali ini akan terbalaskan? karena sepertinya setiap kali ia jatuh hati selalu saja pada orang yang salah, sudah punya pacarlah, terlalu pemilihlah dan lainnya. Lea berharap Teo akan bisa menjadi pacarnya. Lea memang pemimpi yang besar kata sahabatnya dan dirinya sendiri.

selesai syuting Lea berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi, mobil silver milik Teo berhenti tepa didepannya. Teo membuka kaca mobilnya "Le pulang bareng gue aja" tawar Teo. Lea sedikit ragu dan banyak senangnya. dia langsung masuk ke mobil Teo tanpa menjawab. dalam perjalanan awal mereka hanya terdiam, lalu Teo membuka suara terlebih dahulu "Le rumah lo di perumahan kasih blok f kan?" "kok lo tau?" "rumah kita cuma beda 2 blok, waktu itu gue gasengaja ngeliat lo terus gue ikutin deh" "ooohhh". di lanjutkan terus obrolan tentang akting, film, buku, musik dan mereka sampai di depan rumah Lea. "Le besok kan kita ga syuting dan hari libur, lo mau gak nemenin gue jalan?" "boleh tuh kebetulan gue lagi mumet" "okey besok jam 8 ya gue jemput." lalu Teo meninggalkannya di depan gerbang. Lea senang bukan main, bisa jadi mimpinya kalo Teo jadi pacarnya dapat terkabul. tanpa sadar Lea melompat-lompat di depan rumahnya. Lea langsung lari menuju kamarnya dan menelpon salah satu sahabatnya dan menceritakan kejadian yang baru saja ia alami

                                                           ***

sekarang Lea sedang mematut dirinya di depan cerminnya, sudah sejak subuh ia sibuk mendandani dirinya, setelah 2 jam baru ia merasa penampilannya pas dan turun ke bawah untuk sarapan bersama kakaknya. Lea hanya tinggal bersama kakak perempuannya. "rapi banget kamu dek pagi-pagi, mau kemana?" tanya kakaknya bingung. "jalan kaak" jawab Lea asal, lalu duduk dan ikut makan roti yang telah disiapkan kakaknya. sambil menunggu Lea menonton acara tv faforitnya yaitu spongebob. jika suka menonton spongebob, Lea akan asyik sendiri dan menciptakan dunia baru yang isinya hanya dia dan spongebobnya. pukul 8 bel rumah Lea di pencet entah oleh siapa, karena terlalu asyik Lea tidak mendengar belnya berbunyi. jadi kakakknya yang membukakan pintu, ternyata Teo yang datang. kakaknya berteriak memberitahu kalau teman Lea sudah datang dan Lea baru tersadar kalau sekarang sudah pukul 8. Lea langsung berlari menghampiri Teo.

                                                                     ***

ternyata teo mengajak Lea ke taman komplek yang sekarang di penuhi oleh keluarga yang jalan-jalan, anak kecilyang asyik bermain dan muda-mudi yang asyik berjalan santai. Teo dan Lea hanya duduk dibangku panjang taman sambil asyik bersenda gurau. suasana begitu nyaman bagi Lea karena ia baru sekali ini duduk di taman dan berduaan dengan cowo yang ia taksir. Lea merasakan ada yang menyentuh tangannya, ternyata yang menyentuh tangannya adalah tangan Teo. jantung Lea sekarang berdetak lebih kencang. tiba-tiba Teo menatap langsung ke mata Lea dan bekata "I LOVE YOU LEA" Lea yang kaget hanya bisa memasang ekspresi tidak percaya. "Lea lo harus tau gue udah suka sama lo sejak kita pertama ketemu" "pas hari pertma syuting dong? berarti baru seminggu dan lo udah berani nembak gue?" protes Lea panjang lebar. "nggak Le, kita pertama kali ketemu itu pas hari pertama lo MOS waktu itu lo gasengaja nabrak gue karena lo udah telat pas mau upacara" "gue inget pantes gue kayak pernah ketemu lo!" potong Lea saat Teo sedang menjelaskan. "Legue tuh selama setahun merhatiin lo tapi gue takut buat ngedeketin lo, tapi pas kita syuting gue yakin gue bener bener sayang sama lo, please Lea mau gak jadi pacar gue?" "mau". akhirnya mimpinya menjadi kenyataan, tapi apakah cinta yang seperti mimpi ini akan berjalan mulus?

-Princess

Playboy Bisa Tobat Gak Ya

Belum pernah aku jatuh cinta, sekeras ini seperti padamu, jangan sebut aku lelaki, bila tak bias dapatkan engkau, jangan sebut aku lelaki”
Penggalan lagu di atas membuktikan bahwa lelaki lebih mudah mendapatkan perempuan dibandingkan dengan perempuan mendapatkan lelaki, jadi dapat kita simpulkan wajar saja kalau banyak playboy berkeliaran di sekitar kita. Ya salah satu dari sekian banya playboy, ada satu yang dekat denganku yang tidak bukan dan tidak lain sahabatku sendiri Joe. Joe yang beruntung mempunyai tampan rupawan yang sangat nyaman dipandang itu merupakan sahabatku sejak kita masih duduk di Taman Kanank-kanak. Selain fakta itu ternyata masih ada fakta lain yang menyatakan bahwa orang tua kami ternyat telah bersahabat sejak mereka bersekolah pada tingkat menengah pertama. Jadi wajar saja kalau kami sangat dekat. Aku sendiri seorang perempuan dengan paras yang lumayan manis dan lucu yang beruntung mempunyai sahabat seperti Joe, ya aku Alena.
***
“Leleeeeeee!” suara teriakan dari sebrang yang tidak asing lagi bagiku itu membangunkan ku dari tidur cantikku. Aku yakin si empunya suara itu pasti sudah loncat dari balkon kamarnya ke kamarku dan sebentar lagi akan merecoki waktu istirahatku. Aku yang masih malas untuk bangkit dari singgasanaku hanya menunggu dia merecokiku saja.
“Le bangun dong jangan males-malesan gituuuu!” rengek si empunya suara yang sudah merecokiku ya siapa lagi dia kalau buka Joe.
“Duuh Joe masih ngantuk ini, kita jalannya malem aja deeeh” pintaku sambil menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku hingga kepala. Aku dan Joe memang sudah janjian untuk pergi ke Puncak untuk 3 hari ke depan. Jangan berpikir macam-macam dulu, kami ke sana hanya untuk hiburan setelah UJIAN NASIONAL yang sangat sangat rese itu. Joe menarik selimutku yang di susul dengan jurus jitunya agar aku mau terbangun dari tempat tidurku yaitu kelitikan mautnya, dan dia takkan berhenti sebelum aku menyerah karena sedang malas bergulat dengannya aku memutuskan untuk langsung lari ke kamar mandi saja. “ Gue tunggu paling lama 30 menit lo udah harus dibawah” teriak Joe sambil melompati balkon untuk kembali ke kamarnya.
***
Kami sedang dalam perjalanan menuju villa pribadi kepunyaan keluarga Joe, untung saja perjalanan kesana lumayan sepi sehingga sebentar lagi kami akan sampai ke tempat tujuan kami. Villa pribadi keluarga Kusumaningrat ini sangat besar dan luas, villa di urus oleh Pak Boim pengurus sekaligus perawat villa ini tetapi tenang saja tidak mungkin villa yang besar ini hanya dijaga oleh satu orang. Pak Boim dibantu oleh istrinya Bu Inong dan anak-anaknya. Keluarga Pak Boim sangat baik padaku dan aku sudah menganggap mereka seperti keluargaku sendiri.
“Arriveeeeeddd” teriak kami berbarengan, kami langsung disambut oleh Pak Boim dengan senyuman khasnya yang sangat ramah. Pak Boim membawakan barang-barangku sedangkan Joe membawa barang-barangnya sendiri, aku langsung menuju kamar yang sudah biasa aku tempati jika aku dating ke villa ini. Karena hari sudah malam aku langsung terkapar di atas kasur empuk dan tertidur pulas.
“Dasar ikan lele pelor” ledek Joe saat membuka pintu dan melihat aku sudah tertidur pulas, lalu ia menuju kamarnya untuk beristirahat juga. Aku bisa mendengar ledekannya karena aku masih sedikit sadar.
***
Sinar mentari menyusup ke selah-selah tirai yang terbuka di kamarku, aku membuka mata dan membuka tirai jendela agar sinarnya bisa memasuki kamarku. Aku yakin Joe masih tertidur, aku bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukaku. Aku tidak akan kuat mandi dengan udara sedingin ini, lalu setelah sudah lumayan rapi aku keluar untuk melihat apakah sarapan sudah siap atau belum. Ternyata dugaanku salah, Joe sudah duduk santai di meja makan dengan penampilan yang sangat rapi untuk ukarannya.
“Joe tumben banget lo udah rapi?” ledekku saat melihat Joe, dia hanya melirikku dan melanjutkan makan. Kalau sudah makan Joe pasti akan cuek apda apapun disekitarnya itulah kebiasaannya. Aku penasaran kalau dia sedang kencan dengan pacarnya apakah dia begitu juga atau tidak. Aku duduk di kursi sebelah Joe lalu mengambil nasi goreng masakan Bu Inong.
“Joe hari ini kita pergi ke sawah yaaa.” Pintaku, seperti biasa Joe hanya diam dan tidak menanggapi permintaanku barusan. “Joe jawab dong!” omelku agar ditanggapi olehnya. “iyaaaa tuan putri” jawab Joe meledek, Joe memang selalu begitu jika aku sudah meminta sesuatu sambil merengek kepadanya dan diapasti akan mengabulkan permintaan-permintaanku. Lalu kami melanjutkan makan dengan tenang.
***
“aaaaaaaaa” aku menjerit saat terjatuh ke lahan yang dipenuhi oleh lumpur yang abis dibajak oleh kerbau. Joe yang melihatku hanya tertawa terpingkal-pingkal dan tidak membantuku. Dengan susah payah aku berusahan bangkit dari lumpur ini. Lalu berlari menghampiri Joe yang sedang tertawa lalu mengotori wajah indahnya dengan lumpur yang menempel di badanku. Joe berhenti tertawa lalu kami asyik bersenda gurau di sawah yang sangat indah dan sejuk ini.
Kami menghabiskan waktu seharian di persawahan ini, aku memang suka dengan suasana di sini jadi setiap kali ke villa Joe pasti aku memintanya untuk menemaniku kesini. Joe pasti dengan setianya menemaniku berkeliling dan melihat-lihat persawahan. Aku berteriak, menari-nari dan melakukan semua yang ku ingin lakukan di persawahan ini. Saat waktu sudah senja aku mengajak Joe pulang karena sudah puas dan merasa sangat letih. Aku meminta Joe untuk menggendongku sampai villa dengan memasang muka semanis mungkin dan Joe menurutinya.
***
Sudah 3 hari kami menghabiskan waktu bersama di villa dan lingkungan sekitarnya, otak kami benar-benar terhibur dan melupakan semua permasalah yang memenuhi otak kami. Setelah sampai Jakarta, aku yakin Joe akan sibuk dengan pacarnya Nina, seorang cewe manja nan centilnya tak terkalahkan itu. Dari semuan pacar Joe aku paling tidak suka dengan Nina, aku sendiri bingung kenapa Joe mau dengannya padahal dia pernah bilang tidak menyukai cewe manja dan sekarang dia berpacaran dengan cewe manja. Aku merasa ada yang tidak beres dengan otaknya atau ada yang lain entahlah, dia tidak pernah bercerita apa-apa padaku tentang Nina. Dia hanya mengenalkanku dengan Nina dan tidak pernah bercerita tentang hubungan mereka, padahal Joe sebelumnya selalu bercerita padaku tentang hubungannya. Apa kali ini Joe serius dengan Nina makanya dia tidak bercerita padaku, ya Joe selalu bilang kalau dia pacaran hanya untuk keren-kerenan aja Cuma biar dapat julukan saja bukan karena sayang atau cinta pada perempuan yang ia pacari. Tapi apa bisa Joe serius? Entahlah sampai saat ini aku belum menemukan jawabannya.
***
Hari ini Joe bilang dia mau pergi dinner sama Nina dan mengajakku tapi aku menolak tawarannya karena aku sangat malas untuk bertemu dengan Nina entah kenapa. Apa karena pemikiran tentangnya semalam? Entahlah aku hanya berharap kalau pemikiranku semalam itu salah. Kenapa aku tiba-tiba merasa seperti ini, merasa akan kehilangan Joe jika dia memulai hubungan yang serius dengan perempuan aku merasa dia akan mengurangi kadar perhatiannya padaku, waktu bersama kami akan berkurang. Duuh kenapa aku jadi mempunyai pikiran seperti ini pada Joe. Apakah playboy bisa tobat? Aku sih berharap bisa tapi kenapa dia harus tobat karena perempuan yang aku tidak sukai, aku merasa ada perempuan yang lebih pantas untuk membuat playboy itu tobat daripada si manja Nina. Sesaat aku frustasi karena pemikiran yang sangat membingungkan ini, lalu aku memutuskan untuk tidur saja.
***
Aku merasa ada yang duduk di ujung tempat tidurku. Aku penasaran dan memutuskan untuk bangkit dan melihat siapa gerangan yang duduk diam di tempat tidurku, kaget melihat orang itu. Ternyata Joe yang sedang duduk terdiam dan memasang wajah yang sulit untuk dijelaskan, entah mengapa aku merasa iba melihatnya seperti itu. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya lalu memeluknya. Kurasakan dalam pelukanku dia menangis entah mengapa buatku ikut menangis juga dan lebih parahnya lagi hatiku terasa seperti dikoyak-koyak melihatnya seperti ini.
“Joe lo kenapa? Cerita sama gue? Siapa yang buat lo kayak gini?”  bertubi-tubi pertanyaan ku lontarkan dengan khawatir pada Joe. Joe masih terdiam yang membuatku semakin khawatir sekaligus kesal karena sikapnya yang lemah ini. Mana sih Joe yang kuat, Joe yang ini bukanlah Joe-ku. Apa? Joe-ku? kenapa aku bisa berpikiran dia milikku? Apa aku sayang atau bahkan cinta padanya? Ya Tuhan kenapa harus begini? Semua pertanyaan bergejolak dalam diriku, aku harus focus dulu pada Joe dan harus menyingkirkan semua pertanyaan aneh ini.
“Gue capek Lis capeekk” rengek Joe tiba-tiba, aku yang kaget hanya diam dan memasang muka yang menunjukkan ayo lanjutkan saja aku mendengarkanmu. Aku rasa Joe mengerti, lalu ia mulai bercerita kalau dia itu capek mainin hati cewe, dia capek harus jadi playboy. Dia sebenernya gamau tapi dia gada pilihan lain, dia ngelakuin itu cuma mau ngetes satu cewe, cewe yang bener-bener dia cintai dari mereka SMP dan cewe itu aku, entah setelah mendengarkan penjelasannya aku langsung memeluknya lagi. Lalu aku juga bilang aku rasa aku juga mencintainya dan tidak ingin kehilangannya. Lalu kami memutuskan mengganti status kami dari sahabat menjadi pacaran. Jadi playboy bisa tobat dan playboy itu bisa tobat karena orang yang tepat. 

-Princess

Hallo!

akhirnya gue buat blog jugaaa, yaa berawal dari keisengan ngikutin temen buat cerpen. sebenernya sihb dari dulu buat cerpen tapi ya gitu deh nah jadi gue buat blog ini buat share semua yang gue mau ajaa yaa itung itung buat pengalam dan jadi diary laah. dua temen gue iru temen sekelas yang sangat sangat iseng jahil daan rese, apalagi kalau ada kakak kels yaaanggg hmmm tau kan gatausah disebutin. pasti deh merekaa kumat dan alhasi gue salting. tapi sekarang kadar salting udah berkurang koook. eh kok malah curhat, sudah sudah abaikan. jadi selamat datang aja muaaah:*

-Princess