Senin, 29 April 2013

Mengapa Cinta itu Dadakan?



Bendera kuning tergantung di depan rumahku, aku baru saja kehilangan ibuku. Hatiku begitu hancur dan sangat kehilangan. Bagiku ibu adalah segalanya, dia yang telah  merawatku dari kecil hingga tumbuh remaja. Rumahku sangat penuh sesak oleh keluarga dan tetangga. Ayahku juga hadir. Ibu dan ayah sudah berpisah sejak aku berumur 3 tahun. Ibu menikah dengan ayah yang diketahui ibu ayah masih bujangan sesuai pengakuannya. Tetapi setelah 3 tahun menikah ibu baru tahu kalau ayah telah mempunyai istri lain sebelum menikah dengan ibu. Dan akhirnya terjadi perpisahan mereka, karena ibu tidak ingin dicap sebagai perebut suami orang. Aku tidak merasa kehilangan ayah saat itu karna aku masih kecil dan belum mengerti apapun. Karena ibu telah meninggal dunia, ayah bilang aku akan tinggal bersama keluarganya. Aku memang sudah kenal istri ayah tetapi dengan anaknya aku tidak kenal karena belum pernah bertemu.
                                                                                ***
Hari ini adalah hari kepindahanku ke rumah ayah, aku takut tidak diterima di sana apalagi sama anak ayah. Tetapi ayah meyakinkanku kalau aku akan diterima dengan baik di sana. Aku hanya membawa barang-barang yang kuanggap penting karena ayah juga bilang kalau semua barang untukku telah disiapkan. Sesampai di rumah ayah yang akan menjadi rumahku juga, aku di sambut oleh Tante Nola dan anak ayak tak terlihat di sana. “Hallo Pida” sapanya, “Hai tante” balasku. “Panggil mama aja sayang tapi kalau kamu mau” tawar Tante Nola, aku sedikit ragu tapi kalau dipikirkan dia kan ibu tiriku jadi ya boleh sajalah. “iya tante eh ma” balasku sambil tersenyum malu lalu mencium tangannya. Ayahku hanya tersenyum terharu melihatku sangat sopan dan menghargai istrinya. Saat memasuki rumah, aku melihat sesosok cowo yang sudah tidak asing di mataku. Cowo itu menoleh dan benar saja dia adalah kakak kelas di sekolahku, jadi kakak tiriku adalah kakak kelasku yang merupakan sahabat kakak kelas yang kutaksir. Jantungku rasanya mau copot baru saja tadi di sekolah dia menertawakanku, aku memang tidak tahu pasti dia mengetawakanku atau tidak tapi saat gerombolannya melewatiku dan sahabat-sahabatku dia tertawa. Cowo itu sekarang sama halnya denganku, memasang wajah kaget. Lalu ayah, mama Nola menarik tanganku untuk duduk bersamanya di ruang tengah. Aku sangat merasang canggung berada di sana. Mama Nola permisi ke dapur untuk mengambilkan minum dan makanan ringan untuk menemani kami. “Pida, Haidir kalian satu sekolah kan? Apa kalian sudah saling kenal?” Tanya ayah yang menghilangkan kesunyian. “Iya yah, tapi aku gakenal sama dia” jawabku sedikit tidak sopan dan campur kesal karena mengingat kejadian di sekolah. “Iya pa kita gak kenal sama sekali.” Jawab Haidir sangat ketus. Aku yang mendengar jawabannya menjadi tambah kesal. “yaudah sekarang kalian kenalan yah, ayah ke belakang dulu” tawar ayah. “ih ayah gaenak panggilnya papa ajalah kayak biasanya, eh lo jangan panggil ayah papa aja” perintah Haidir sok kuasa. “Apaansih suka-suka gue” “iya Dir biarin Pida manggil papa apa” “lagian tadi papa bilangnya ayah, papa kan gacocok dipanggil aya. Udah gini aja tentuin aja ya panggilnya papa titik.” “terserah deh” ayah yang melihat perdebatan hanya bisa geleng-geleng kepala lalu pergi meninggalkan kami. Aku sebenernya juga mau pergi tetapi aku tidak tahu di mana calon kamarku. “Eh lo yang naksir Rino kan?” todong Haidir tiba-tiba, aku yang ditodong hanya bisa memasang wajah cengo saja. “Punya kuping kan? Jawab kali” tanyanya lagi dengan nada mengejek. “kok lo sok tahu banget sih, siapa juga yang suka sama Kak Rino” kataku berbohong, aku yakin mukaku terlihat sekali sedang berbohong karena aku tidak bisa yang namanya bohong. “gausah boong deh gue sering kok sama temen-temen gue ngeliatin kalian lagi ngeliatin gue dan temen-temen. “ “ih kok pd amat sih kalian” “ckckc dasar ya cewe. Yaudahlah kalau gamau jujur.” Aku bunging maksud katanya yang ini sehingga aku hanya diam dan mencerna makna di balik kalimat itu. “lo gamau ke kamar lo?” “hmm gue gatau kamar gue di mana, kalau tau juga udah ke kamar deh” “oh gitu, yaudah ayok ikut gue” lalu Haidir bangki yang disusul olehku di belakangnya menuju kamarku.
                                                                                ***
“kalian berangkat bareng ya, papa gabisa anter Pida soalnya papa ada meeting” “iya pa” aku yang mendengar percakapan singkat itu hanya bisa deg-degan campur aduk. Aku takut kalau nanti jadi bahan perbincangan orang-orang di sekolah. Aku duduk di  jok belakang motor Kak Haidir. Entah apa yang terjadi nanti di sekolah. “Da lo beneran ga suka sama temen gue?” “kenapa sih lo penasaran banget Kak” “gapapa gue penasaran aja, lagi waktu itu pernahkan temen-temen lo heboh panggilan nama lo pas gue ama temen-temen gue lewat terus elo salting gitu” jelasnya sangat panjang, aku bingung harus menjawab apa. “gapapa kan wajar kali cewe heboh” dan itulah jawaban yang terlontar di mulutku. Setelah itu selama perjalanan hanya diam, lalu aku memasang earphone untuk mendengarkan alunan lagu pada handphoneku. Tanpaku sadari ternyata kami sudah memasuki parkiran sekolah, saat aku ingin turun dari motor ku lihat motor sebelah adalah motor Kak Rino dan orangnya yang baru saja turun yang sangat kebetulan lagu pada handphoneku sedang terputar lagu Dia – Afgan. Sungguh kebetulan yang sangat membuatku tercengang, lalu buru-buru saja aku kabur dari sana menuju kelasku. Aku sudah melihat Angel yang sedang berdiri melamun seperti biasa di depan kelas. Kelasku terletak pada lantai satu jadi aku buru-buru menaiki tangga dan sedikit berlari menghampiri Angel. “Hai Pid, di kejar setan ya?” Sapanya setelah melihatku dating dengan yang sedikit ngos-ngosan. “Sialan lo Ngel, ih gila gue ketemu Kak Rino diparkiran njiir” ceritaku padanya. “Iya? Gimana-gimana? Terus yang ternyata kakak tiri lo itu si Haidir juga gimana?” “ntar aja ceritanya sekalian sama Dira dan Agnest aja” “kebiasaan lo ya bikin kepo” lalu aku pergi ke dalam kelas untuk menaruh tas dan balik lagi ke Angel. Tak lama kemudian Dira dan Agnest dating. Kebetulan jam pertama dan kedua kosong karena gurunya ada urusan dan tidsak meninggalkan tugas. Aku, Angel, Dira dan Agnest duduk di belakang kelas sambil aku bercerita kejadian kemarin dan tadi pagi. Mereka tertawa dan mencie-cie kanku, aku tidak mengerti sama sikap mereka yang selalu jahil tapi care. Entah mengapa aku punya perasaan tidak enak, karena Kak Haidir selalu mendesakku untuk jujur.
Dek nanti pulangnya bareng disuruh papa, nanti lo ke kelas gue aja ya. Gue mau belajar dulu soalnya.
Isi sms dari Kak Haidir sangat membuatku kaget dan kesal, karena kan bisa aja aku menunggu di kelas atau pas dia di parkiran aku tinggal menyusulnya. Saat kutunjukkan SMS itu ke sahabat-sahabatku mereka langsung heboh seketika dan anak-anak sekelas langsung mengalihkan perhatian mereka ke kami. Aku meminta mereka untuk nanti menemani ku kekelas Kak Haidir, untung saja mereka mau karena mereka ada urusan. Apalagi Agnest yang juga naksir sama salah satu teman Kak Haidir yaitu Kak Keni. Angel dan Dira ingin member uang ke kakak kelas yang kelasnya bersebelahan dengan kelas Kak Haidir. Bel ganti pelajaran ketiga berbunyi lalu guru dating dan kamipun belajar. Pada waktu istirahat [ertama dan kedua kami berempat, pasti sibuk untuk menjalankan modus kami yaitu melihat gerombolan kakak kece, ya apalagi kalo bukan Kak Rino cs.
                                                                                ***
Waktunya pulang sekolah, kami tidak langsung menuju ke kelas Kak Haidir kami berdiri dulu selama 15 menit baru turun ke bawah. Angel, Dira dan Agnest ke kelas kakak eksul mereka yang berada tepat di sebelah Kak Haidir sedangkan aku ke kelasnya. Ternyata Haidir berbohong dia tidak sedang balajar, lalu saat gerombolan melihatku saat memanggila Kakakku, yang menghampiriku bukannya Haidir tapi Rino kurasakan Jantungku berdetak lebih cepat mungkin ingin copot. Aku hanya bisa diam mematung rasanya ingin kabur tapi kakiku tak mau bekerjasama. Ku lirik ketiga sahabatku di kelas sebelah, mereka sedang asik mengobrol dengan kakak kelasnya. “Hai Pida kan? Adiknya Haidir?” “Iya kenapa ya? Kak Haidir ayo pulang gue banyak tugas nih!” seru ku pada Haidir, lalu ku lihat ketiga temanku sekarang sedang sibuk cekikikan yang melihatku sedang salting karena dihampiri oleh orang yang sedangku taksir. “Gapapa, lo kenapa buru-buru banget sih sini aja ngobrol dulu aja” ajak Kak Rino. “enggak deh kak gue banyak tugas. Kak Haidir cepetan dong udah ijin duluan sama temen-temen lo elah” omelku. “Yaudah gue duluan ya, bawel banget dia sabar ya Rin besok aja lo ke rumah gue” lalu Rino hanya menganggu dan kami pulang, saat melewati ketiga sahabatku mereka masih asyik tertawa.
                                                                                ***
Mentari menyusup ke kamarku, suara ketukan pintu denger dari pintu kamarku. Di susul suara Mama Nola yang memanggil, manggil namaku untuk sarapan. Aku ke kamar mandi untuk mencuci mukaku karena ini hari sabtu aku tidak sekolah jadi aku tidak mandi pagi. Aku turun tangga menuju ruang makan, semua sudah duduk di ruang makan. Bel rumah bel berbunyi bertepatan saat aku selesai makan, lalu Mama meminta tolong agar aku membukakan pintunya. Aku sangat takut kalau tamu itu adalah Kak Rino, entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat lagi. Dan benar saja tebakanku kalau yang dating adalah Kak Rino. “Kaaaaaaak ada temennya yang dating nih” teriakku meberitahu Kak Haidir lalu mempersilahkan Kak Rino duduk. Karena sudah terbiasa diajarkan ibuku untuk sopan pada tamu aku menanyakan dia mau minum apa tetapi dia malah minta ditemani mengobrol. Aku tak tahu mengapa Kak Haidir dating sangat lama padahal jarak dari ruang makan ke ruang tamu tidak jauh. “eh Rin udah lama? Tadi gue ngambilin minum dulu nih” kata Haidir saat datang.  “Lama banget sih, Kak Rino gue ke kamar dullu yak an Kak Haidir udah dating.” Pamitku, lalu melanhgkah ke kamar tetapi tanganku di tahan olehnya. Kak Haidir hanya nyengir melihat adegan barusan. “tunggu, lo siap-siap y ague mau ngajak lo jalan.” “hah? Males ah gue ngantuk” “udah pergi aja sono” “lo ikut kak?” “enggaklah lo berdua aja” “lah mau ngapain?” “jalan aja Pid, mau ya? Baru gue lepasin tangan lo” “ih maksa banget sih kak, iya deh iyah” lalu Kak Rino melepaskan tanganku. Aku bergegas ke kamar dan bersiap untuk pergi bersama Kak Rino. Sebenernya tadi aku hanya jual mahal aja, biasalah cewe kan gengsinya gede.
                                                                                ***
Kami sampai di suatu taman yang masih indah dan sangat terawat. Selama ini aku tidak pernah pergi kesini, ternyata tempat ini sangat indah. Kak Rino menyuruhku untuk turun duluan dan mencari taman yang berisi bunga mawar. Aku menunggu kira-kira sudah 30 menit dan dia juga belum dating. Karna bosan ku putuskan untuk memperhatikan mawar-mawar indah disini.  Seketika penglihatanku gelap, ada tangan yang menutupinya. “ayo tebak siapa?” “paling Kak Rino, udah ka jangan becanda mulu bosen gue.” “jangan panggil Kak kita kan sepantaran Cuma beda beberapa bulan aja” “yaudah lepasin tangan lo dong Rin” lalu dia melepaskan tangannya, aku berbalik dan kaget melihat Rino memegang sebuah mawar putih dan satu set cokelat faforitku. “PIDA INDAH PUTRI MAU GAK JADI PACAR GUE?” “APA?” “MAU GAK LO JADI PACAR GUE?” “SERIUS?” “ENGGAK BOONGAN” “OH KIRAIN BENERAN” lalu aku pergi meninggalkannya karena merasa di permainkan padahal hatiku sudah berbunga-bunga. “PIDAAAAAA KOK LARI SIIH!” teriak Rino, lalu mengejarku dan menghentikan langkahku. “kok lo lari sih?” sambil memutar tubuhku agar melihatnya “kok nangis?” “lagian lo jahat banget” kataku sambil terisak. “Pida tadi gue Cuma bercanda bilang boongannya, gue serius kok gue beneran sayang sama lo soalnya lo lucu banget kalo ke gep lagi meratiin gue” jelasnya panjang lebar. “kok pd banget sih lo, gue gameratiin lo” “gausah boong Pida, yaudah gini kalau lo mau jadi pacar gue lo ambil mawar dan coklat favorit lo tapi kalo gamau ambil coklatnya aja” “kok lo tau coklat faforit gue Rin?” “karena gue juga meratiin lo, ayp cepet pilih” lalu aku mengambil coklat faforitku. Ku lihat raut mukanya sangat kecewa. “Pida lo nolak gue?” “iyalah gue nolak lo untuk Cuma ngambil coklat aja jadi gue ambil juga mawarnya”. Lalu dia memelukku dan berterimakasih karna sudah menerima cinta dadakannya itu.
                                                                                ***
“Piddddd lo beneran jadian?” Tanya Agnest tak percaya. “iya ciyuss deh cungguh” candaku sambil meniru gaya-gaya sok imut ala anak alay. “cieee PJ PJ” kata Dira dan Angel  berbarengan. “tenang ajaaa, Nest kapan lo mau pdkt sama Keni? Gue bantuin deh” “ah gamau ah, lagian gamungkin gue jadian sama dia” “kata siapa gamungkin” kata Keni tiba-tiba nimbrung pembicaraan kami di kantin, untung kantin sedang rame jadi kemungkinan orang-orang memperhatikan kami sangat sedikit. Kami berempat langsung menoleh ke sumber suara. Kulihat gerombolan Rino ternyata duduk di belakang meja kami. “Agnest sebenernya gue suka lo tuh bareng pas Rino suka Pida, mau gak lo jadi pacar gue?” “mauu” “cieeee” lalu gerombolannya dan kami berempat bergabung di satu meja. Memang cinta selalu dating tanpa permisi dan secara tiba-tiba. Kita sebagai manusiapun pasti sulit untuk menolak kehadiran cinta.
-Princess

Tidak ada komentar:

Posting Komentar