Sabtu, 27 April 2013

Playboy Bisa Tobat Gak Ya

Belum pernah aku jatuh cinta, sekeras ini seperti padamu, jangan sebut aku lelaki, bila tak bias dapatkan engkau, jangan sebut aku lelaki”
Penggalan lagu di atas membuktikan bahwa lelaki lebih mudah mendapatkan perempuan dibandingkan dengan perempuan mendapatkan lelaki, jadi dapat kita simpulkan wajar saja kalau banyak playboy berkeliaran di sekitar kita. Ya salah satu dari sekian banya playboy, ada satu yang dekat denganku yang tidak bukan dan tidak lain sahabatku sendiri Joe. Joe yang beruntung mempunyai tampan rupawan yang sangat nyaman dipandang itu merupakan sahabatku sejak kita masih duduk di Taman Kanank-kanak. Selain fakta itu ternyata masih ada fakta lain yang menyatakan bahwa orang tua kami ternyat telah bersahabat sejak mereka bersekolah pada tingkat menengah pertama. Jadi wajar saja kalau kami sangat dekat. Aku sendiri seorang perempuan dengan paras yang lumayan manis dan lucu yang beruntung mempunyai sahabat seperti Joe, ya aku Alena.
***
“Leleeeeeee!” suara teriakan dari sebrang yang tidak asing lagi bagiku itu membangunkan ku dari tidur cantikku. Aku yakin si empunya suara itu pasti sudah loncat dari balkon kamarnya ke kamarku dan sebentar lagi akan merecoki waktu istirahatku. Aku yang masih malas untuk bangkit dari singgasanaku hanya menunggu dia merecokiku saja.
“Le bangun dong jangan males-malesan gituuuu!” rengek si empunya suara yang sudah merecokiku ya siapa lagi dia kalau buka Joe.
“Duuh Joe masih ngantuk ini, kita jalannya malem aja deeeh” pintaku sambil menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku hingga kepala. Aku dan Joe memang sudah janjian untuk pergi ke Puncak untuk 3 hari ke depan. Jangan berpikir macam-macam dulu, kami ke sana hanya untuk hiburan setelah UJIAN NASIONAL yang sangat sangat rese itu. Joe menarik selimutku yang di susul dengan jurus jitunya agar aku mau terbangun dari tempat tidurku yaitu kelitikan mautnya, dan dia takkan berhenti sebelum aku menyerah karena sedang malas bergulat dengannya aku memutuskan untuk langsung lari ke kamar mandi saja. “ Gue tunggu paling lama 30 menit lo udah harus dibawah” teriak Joe sambil melompati balkon untuk kembali ke kamarnya.
***
Kami sedang dalam perjalanan menuju villa pribadi kepunyaan keluarga Joe, untung saja perjalanan kesana lumayan sepi sehingga sebentar lagi kami akan sampai ke tempat tujuan kami. Villa pribadi keluarga Kusumaningrat ini sangat besar dan luas, villa di urus oleh Pak Boim pengurus sekaligus perawat villa ini tetapi tenang saja tidak mungkin villa yang besar ini hanya dijaga oleh satu orang. Pak Boim dibantu oleh istrinya Bu Inong dan anak-anaknya. Keluarga Pak Boim sangat baik padaku dan aku sudah menganggap mereka seperti keluargaku sendiri.
“Arriveeeeeddd” teriak kami berbarengan, kami langsung disambut oleh Pak Boim dengan senyuman khasnya yang sangat ramah. Pak Boim membawakan barang-barangku sedangkan Joe membawa barang-barangnya sendiri, aku langsung menuju kamar yang sudah biasa aku tempati jika aku dating ke villa ini. Karena hari sudah malam aku langsung terkapar di atas kasur empuk dan tertidur pulas.
“Dasar ikan lele pelor” ledek Joe saat membuka pintu dan melihat aku sudah tertidur pulas, lalu ia menuju kamarnya untuk beristirahat juga. Aku bisa mendengar ledekannya karena aku masih sedikit sadar.
***
Sinar mentari menyusup ke selah-selah tirai yang terbuka di kamarku, aku membuka mata dan membuka tirai jendela agar sinarnya bisa memasuki kamarku. Aku yakin Joe masih tertidur, aku bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukaku. Aku tidak akan kuat mandi dengan udara sedingin ini, lalu setelah sudah lumayan rapi aku keluar untuk melihat apakah sarapan sudah siap atau belum. Ternyata dugaanku salah, Joe sudah duduk santai di meja makan dengan penampilan yang sangat rapi untuk ukarannya.
“Joe tumben banget lo udah rapi?” ledekku saat melihat Joe, dia hanya melirikku dan melanjutkan makan. Kalau sudah makan Joe pasti akan cuek apda apapun disekitarnya itulah kebiasaannya. Aku penasaran kalau dia sedang kencan dengan pacarnya apakah dia begitu juga atau tidak. Aku duduk di kursi sebelah Joe lalu mengambil nasi goreng masakan Bu Inong.
“Joe hari ini kita pergi ke sawah yaaa.” Pintaku, seperti biasa Joe hanya diam dan tidak menanggapi permintaanku barusan. “Joe jawab dong!” omelku agar ditanggapi olehnya. “iyaaaa tuan putri” jawab Joe meledek, Joe memang selalu begitu jika aku sudah meminta sesuatu sambil merengek kepadanya dan diapasti akan mengabulkan permintaan-permintaanku. Lalu kami melanjutkan makan dengan tenang.
***
“aaaaaaaaa” aku menjerit saat terjatuh ke lahan yang dipenuhi oleh lumpur yang abis dibajak oleh kerbau. Joe yang melihatku hanya tertawa terpingkal-pingkal dan tidak membantuku. Dengan susah payah aku berusahan bangkit dari lumpur ini. Lalu berlari menghampiri Joe yang sedang tertawa lalu mengotori wajah indahnya dengan lumpur yang menempel di badanku. Joe berhenti tertawa lalu kami asyik bersenda gurau di sawah yang sangat indah dan sejuk ini.
Kami menghabiskan waktu seharian di persawahan ini, aku memang suka dengan suasana di sini jadi setiap kali ke villa Joe pasti aku memintanya untuk menemaniku kesini. Joe pasti dengan setianya menemaniku berkeliling dan melihat-lihat persawahan. Aku berteriak, menari-nari dan melakukan semua yang ku ingin lakukan di persawahan ini. Saat waktu sudah senja aku mengajak Joe pulang karena sudah puas dan merasa sangat letih. Aku meminta Joe untuk menggendongku sampai villa dengan memasang muka semanis mungkin dan Joe menurutinya.
***
Sudah 3 hari kami menghabiskan waktu bersama di villa dan lingkungan sekitarnya, otak kami benar-benar terhibur dan melupakan semua permasalah yang memenuhi otak kami. Setelah sampai Jakarta, aku yakin Joe akan sibuk dengan pacarnya Nina, seorang cewe manja nan centilnya tak terkalahkan itu. Dari semuan pacar Joe aku paling tidak suka dengan Nina, aku sendiri bingung kenapa Joe mau dengannya padahal dia pernah bilang tidak menyukai cewe manja dan sekarang dia berpacaran dengan cewe manja. Aku merasa ada yang tidak beres dengan otaknya atau ada yang lain entahlah, dia tidak pernah bercerita apa-apa padaku tentang Nina. Dia hanya mengenalkanku dengan Nina dan tidak pernah bercerita tentang hubungan mereka, padahal Joe sebelumnya selalu bercerita padaku tentang hubungannya. Apa kali ini Joe serius dengan Nina makanya dia tidak bercerita padaku, ya Joe selalu bilang kalau dia pacaran hanya untuk keren-kerenan aja Cuma biar dapat julukan saja bukan karena sayang atau cinta pada perempuan yang ia pacari. Tapi apa bisa Joe serius? Entahlah sampai saat ini aku belum menemukan jawabannya.
***
Hari ini Joe bilang dia mau pergi dinner sama Nina dan mengajakku tapi aku menolak tawarannya karena aku sangat malas untuk bertemu dengan Nina entah kenapa. Apa karena pemikiran tentangnya semalam? Entahlah aku hanya berharap kalau pemikiranku semalam itu salah. Kenapa aku tiba-tiba merasa seperti ini, merasa akan kehilangan Joe jika dia memulai hubungan yang serius dengan perempuan aku merasa dia akan mengurangi kadar perhatiannya padaku, waktu bersama kami akan berkurang. Duuh kenapa aku jadi mempunyai pikiran seperti ini pada Joe. Apakah playboy bisa tobat? Aku sih berharap bisa tapi kenapa dia harus tobat karena perempuan yang aku tidak sukai, aku merasa ada perempuan yang lebih pantas untuk membuat playboy itu tobat daripada si manja Nina. Sesaat aku frustasi karena pemikiran yang sangat membingungkan ini, lalu aku memutuskan untuk tidur saja.
***
Aku merasa ada yang duduk di ujung tempat tidurku. Aku penasaran dan memutuskan untuk bangkit dan melihat siapa gerangan yang duduk diam di tempat tidurku, kaget melihat orang itu. Ternyata Joe yang sedang duduk terdiam dan memasang wajah yang sulit untuk dijelaskan, entah mengapa aku merasa iba melihatnya seperti itu. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya lalu memeluknya. Kurasakan dalam pelukanku dia menangis entah mengapa buatku ikut menangis juga dan lebih parahnya lagi hatiku terasa seperti dikoyak-koyak melihatnya seperti ini.
“Joe lo kenapa? Cerita sama gue? Siapa yang buat lo kayak gini?”  bertubi-tubi pertanyaan ku lontarkan dengan khawatir pada Joe. Joe masih terdiam yang membuatku semakin khawatir sekaligus kesal karena sikapnya yang lemah ini. Mana sih Joe yang kuat, Joe yang ini bukanlah Joe-ku. Apa? Joe-ku? kenapa aku bisa berpikiran dia milikku? Apa aku sayang atau bahkan cinta padanya? Ya Tuhan kenapa harus begini? Semua pertanyaan bergejolak dalam diriku, aku harus focus dulu pada Joe dan harus menyingkirkan semua pertanyaan aneh ini.
“Gue capek Lis capeekk” rengek Joe tiba-tiba, aku yang kaget hanya diam dan memasang muka yang menunjukkan ayo lanjutkan saja aku mendengarkanmu. Aku rasa Joe mengerti, lalu ia mulai bercerita kalau dia itu capek mainin hati cewe, dia capek harus jadi playboy. Dia sebenernya gamau tapi dia gada pilihan lain, dia ngelakuin itu cuma mau ngetes satu cewe, cewe yang bener-bener dia cintai dari mereka SMP dan cewe itu aku, entah setelah mendengarkan penjelasannya aku langsung memeluknya lagi. Lalu aku juga bilang aku rasa aku juga mencintainya dan tidak ingin kehilangannya. Lalu kami memutuskan mengganti status kami dari sahabat menjadi pacaran. Jadi playboy bisa tobat dan playboy itu bisa tobat karena orang yang tepat. 

-Princess

Tidak ada komentar:

Posting Komentar