“Belum pernah aku jatuh cinta, sekeras ini seperti
padamu, jangan sebut aku lelaki, bila tak bias dapatkan engkau, jangan sebut
aku lelaki”
Penggalan lagu di atas membuktikan bahwa lelaki lebih mudah
mendapatkan perempuan dibandingkan dengan perempuan mendapatkan lelaki, jadi
dapat kita simpulkan wajar saja kalau banyak playboy berkeliaran di sekitar
kita. Ya salah satu dari sekian banya playboy, ada satu yang dekat denganku
yang tidak bukan dan tidak lain sahabatku sendiri Joe. Joe yang beruntung
mempunyai tampan rupawan yang sangat nyaman dipandang itu merupakan sahabatku
sejak kita masih duduk di Taman Kanank-kanak. Selain fakta itu ternyata masih
ada fakta lain yang menyatakan bahwa orang tua kami ternyat telah bersahabat
sejak mereka bersekolah pada tingkat menengah pertama. Jadi wajar saja kalau
kami sangat dekat. Aku sendiri seorang perempuan dengan paras yang lumayan
manis dan lucu yang beruntung mempunyai sahabat seperti Joe, ya aku Alena.
***
“Leleeeeeee!” suara teriakan dari sebrang yang tidak asing
lagi bagiku itu membangunkan ku dari tidur cantikku. Aku yakin si empunya suara
itu pasti sudah loncat dari balkon kamarnya ke kamarku dan sebentar lagi akan
merecoki waktu istirahatku. Aku yang masih malas untuk bangkit dari
singgasanaku hanya menunggu dia merecokiku saja.
“Le bangun dong jangan males-malesan gituuuu!” rengek si
empunya suara yang sudah merecokiku ya siapa lagi dia kalau buka Joe.
“Duuh Joe masih ngantuk ini, kita jalannya malem aja deeeh”
pintaku sambil menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku hingga kepala. Aku
dan Joe memang sudah janjian untuk pergi ke Puncak untuk 3 hari ke depan. Jangan
berpikir macam-macam dulu, kami ke sana hanya untuk hiburan setelah UJIAN
NASIONAL yang sangat sangat rese itu. Joe menarik selimutku yang di susul
dengan jurus jitunya agar aku mau terbangun dari tempat tidurku yaitu kelitikan
mautnya, dan dia takkan berhenti sebelum aku menyerah karena sedang malas
bergulat dengannya aku memutuskan untuk langsung lari ke kamar mandi saja. “
Gue tunggu paling lama 30 menit lo udah harus dibawah” teriak Joe sambil
melompati balkon untuk kembali ke kamarnya.
***
Kami sedang dalam perjalanan menuju villa pribadi kepunyaan
keluarga Joe, untung saja perjalanan kesana lumayan sepi sehingga sebentar lagi
kami akan sampai ke tempat tujuan kami. Villa pribadi keluarga Kusumaningrat
ini sangat besar dan luas, villa di urus oleh Pak Boim pengurus sekaligus
perawat villa ini tetapi tenang saja tidak mungkin villa yang besar ini hanya
dijaga oleh satu orang. Pak Boim dibantu oleh istrinya Bu Inong dan
anak-anaknya. Keluarga Pak Boim sangat baik padaku dan aku sudah menganggap
mereka seperti keluargaku sendiri.
“Arriveeeeeddd” teriak kami berbarengan, kami langsung
disambut oleh Pak Boim dengan senyuman khasnya yang sangat ramah. Pak Boim
membawakan barang-barangku sedangkan Joe membawa barang-barangnya sendiri, aku
langsung menuju kamar yang sudah biasa aku tempati jika aku dating ke villa
ini. Karena hari sudah malam aku langsung terkapar di atas kasur empuk dan
tertidur pulas.
“Dasar ikan lele pelor” ledek Joe saat membuka pintu dan
melihat aku sudah tertidur pulas, lalu ia menuju kamarnya untuk beristirahat
juga. Aku bisa mendengar ledekannya karena aku masih sedikit sadar.
***
Sinar mentari menyusup ke selah-selah tirai yang terbuka di
kamarku, aku membuka mata dan membuka tirai jendela agar sinarnya bisa memasuki
kamarku. Aku yakin Joe masih tertidur, aku bangkit dan menuju ke kamar mandi
untuk mencuci mukaku. Aku tidak akan kuat mandi dengan udara sedingin ini, lalu
setelah sudah lumayan rapi aku keluar untuk melihat apakah sarapan sudah siap
atau belum. Ternyata dugaanku salah, Joe sudah duduk santai di meja makan
dengan penampilan yang sangat rapi untuk ukarannya.
“Joe tumben banget lo udah rapi?” ledekku saat melihat Joe,
dia hanya melirikku dan melanjutkan makan. Kalau sudah makan Joe pasti akan
cuek apda apapun disekitarnya itulah kebiasaannya. Aku penasaran kalau dia
sedang kencan dengan pacarnya apakah dia begitu juga atau tidak. Aku duduk di
kursi sebelah Joe lalu mengambil nasi goreng masakan Bu Inong.
“Joe hari ini kita pergi ke sawah yaaa.” Pintaku, seperti
biasa Joe hanya diam dan tidak menanggapi permintaanku barusan. “Joe jawab
dong!” omelku agar ditanggapi olehnya. “iyaaaa tuan putri” jawab Joe meledek,
Joe memang selalu begitu jika aku sudah meminta sesuatu sambil merengek
kepadanya dan diapasti akan mengabulkan permintaan-permintaanku. Lalu kami
melanjutkan makan dengan tenang.
***
“aaaaaaaaa” aku menjerit saat terjatuh ke lahan yang dipenuhi
oleh lumpur yang abis dibajak oleh kerbau. Joe yang melihatku hanya tertawa
terpingkal-pingkal dan tidak membantuku. Dengan susah payah aku berusahan
bangkit dari lumpur ini. Lalu berlari menghampiri Joe yang sedang tertawa lalu
mengotori wajah indahnya dengan lumpur yang menempel di badanku. Joe berhenti
tertawa lalu kami asyik bersenda gurau di sawah yang sangat indah dan sejuk
ini.
Kami menghabiskan waktu seharian di persawahan ini, aku memang
suka dengan suasana di sini jadi setiap kali ke villa Joe pasti aku memintanya
untuk menemaniku kesini. Joe pasti dengan setianya menemaniku berkeliling dan
melihat-lihat persawahan. Aku berteriak, menari-nari dan melakukan semua yang
ku ingin lakukan di persawahan ini. Saat waktu sudah senja aku mengajak Joe
pulang karena sudah puas dan merasa sangat letih. Aku meminta Joe untuk
menggendongku sampai villa dengan memasang muka semanis mungkin dan Joe
menurutinya.
***
Sudah 3 hari kami menghabiskan waktu bersama di villa dan
lingkungan sekitarnya, otak kami benar-benar terhibur dan melupakan semua
permasalah yang memenuhi otak kami. Setelah sampai Jakarta, aku yakin Joe akan sibuk
dengan pacarnya Nina, seorang cewe manja nan centilnya tak terkalahkan itu. Dari
semuan pacar Joe aku paling tidak suka dengan Nina, aku sendiri bingung kenapa
Joe mau dengannya padahal dia pernah bilang tidak menyukai cewe manja dan
sekarang dia berpacaran dengan cewe manja. Aku merasa ada yang tidak beres
dengan otaknya atau ada yang lain entahlah, dia tidak pernah bercerita apa-apa
padaku tentang Nina. Dia hanya mengenalkanku dengan Nina dan tidak pernah
bercerita tentang hubungan mereka, padahal Joe sebelumnya selalu bercerita
padaku tentang hubungannya. Apa kali ini Joe serius dengan Nina makanya dia
tidak bercerita padaku, ya Joe selalu bilang kalau dia pacaran hanya untuk
keren-kerenan aja Cuma biar dapat julukan saja bukan karena sayang atau cinta
pada perempuan yang ia pacari. Tapi apa bisa Joe serius? Entahlah sampai saat
ini aku belum menemukan jawabannya.
***
Hari ini Joe bilang dia mau pergi dinner sama Nina dan
mengajakku tapi aku menolak tawarannya karena aku sangat malas untuk bertemu
dengan Nina entah kenapa. Apa karena pemikiran tentangnya semalam? Entahlah aku
hanya berharap kalau pemikiranku semalam itu salah. Kenapa aku tiba-tiba merasa
seperti ini, merasa akan kehilangan Joe jika dia memulai hubungan yang serius
dengan perempuan aku merasa dia akan mengurangi kadar perhatiannya padaku,
waktu bersama kami akan berkurang. Duuh kenapa aku jadi mempunyai pikiran
seperti ini pada Joe. Apakah playboy bisa tobat? Aku sih berharap bisa tapi
kenapa dia harus tobat karena perempuan yang aku tidak sukai, aku merasa ada
perempuan yang lebih pantas untuk membuat playboy itu tobat daripada si manja
Nina. Sesaat aku frustasi karena pemikiran yang sangat membingungkan ini, lalu
aku memutuskan untuk tidur saja.
***
Aku merasa ada yang duduk di ujung tempat tidurku. Aku penasaran
dan memutuskan untuk bangkit dan melihat siapa gerangan yang duduk diam di
tempat tidurku, kaget melihat orang itu. Ternyata Joe yang sedang duduk terdiam
dan memasang wajah yang sulit untuk dijelaskan, entah mengapa aku merasa iba
melihatnya seperti itu. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya lalu
memeluknya. Kurasakan dalam pelukanku dia menangis entah mengapa buatku ikut
menangis juga dan lebih parahnya lagi hatiku terasa seperti dikoyak-koyak
melihatnya seperti ini.
“Joe lo kenapa? Cerita sama gue? Siapa yang buat lo kayak
gini?” bertubi-tubi pertanyaan ku
lontarkan dengan khawatir pada Joe. Joe masih terdiam yang membuatku semakin
khawatir sekaligus kesal karena sikapnya yang lemah ini. Mana sih Joe yang
kuat, Joe yang ini bukanlah Joe-ku. Apa? Joe-ku? kenapa aku bisa berpikiran dia
milikku? Apa aku sayang atau bahkan cinta padanya? Ya Tuhan kenapa harus
begini? Semua pertanyaan bergejolak dalam diriku, aku harus focus dulu pada Joe
dan harus menyingkirkan semua pertanyaan aneh ini.
“Gue capek Lis capeekk” rengek Joe tiba-tiba, aku yang kaget
hanya diam dan memasang muka yang menunjukkan ayo lanjutkan saja aku
mendengarkanmu. Aku rasa Joe mengerti, lalu ia mulai bercerita kalau dia itu
capek mainin hati cewe, dia capek harus jadi playboy. Dia sebenernya gamau tapi
dia gada pilihan lain, dia ngelakuin itu cuma mau ngetes satu cewe, cewe yang
bener-bener dia cintai dari mereka SMP dan cewe itu aku, entah setelah
mendengarkan penjelasannya aku langsung memeluknya lagi. Lalu aku juga bilang
aku rasa aku juga mencintainya dan tidak ingin kehilangannya. Lalu kami
memutuskan mengganti status kami dari sahabat menjadi pacaran. Jadi playboy
bisa tobat dan playboy itu bisa tobat karena orang yang tepat.
-Princess
Tidak ada komentar:
Posting Komentar